Merawat Tradisi Pencerahan, Roni Tabroni dan Jalan Panjang Media Muhammadiyah

By Admin Web 13 Des 2025, 16:08:10 WIB Persyarikatan
Merawat Tradisi Pencerahan, Roni Tabroni dan Jalan Panjang Media Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHLAMPUNG.OR.ID, Metro — Sejak lebih dari satu abad lalu, Muhammadiyah menempatkan media sebagai jantung dakwah pencerahan. Di tengah perubahan zaman dan ledakan informasi digital, tradisi itu terus dirawat dan diperkuat oleh para penggeraknya. Salah satunya adalah Dr. Roni Tabroni, M.Si., Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Lahir di Tasikmalaya, Roni tumbuh dari rahim gerakan pelajar dan pemuda Muhammadiyah. Jejak pengabdiannya dimulai dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pada 1996, berlanjut di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 1999–2005, kemudian aktif di Pemuda Muhammadiyah sejak 2006. Konsistensi itu mengantarkannya dipercaya mengabdi di MPI Pusat selama tiga periode sejak 2010, dengan fokus pada penguatan media dan jurnalistik persyarikatan.

Selain aktif dalam organisasi, Roni menapaki dunia akademik sebagai dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung. Ia menempuh pendidikan doktoral (S3) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan konsentrasi Agama dan Media.

Baca Lainnya :

Bagi Roni, media tidak sekadar instrumen komunikasi, tetapi ruang dakwah yang menuntut integritas, kedalaman literasi, dan keberpihakan pada nilai.

Gagasan tersebut ia sampaikan saat menjadi pemateri Festival Pers dan Literasi PP Muhammadiyah yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Metro, Sabtu, 13 Desember 2025.

Dalam forum yang dihadiri insan pers, pendidik, dan pegiat literasi Muhammadiyah itu, Roni mengajak peserta menengok kembali akar sejarah pers Muhammadiyah.

Sejak kelahiran Majalah Suara Muhammadiyah pada 13 Agustus 1915, Muhammadiyah telah menjadikan media sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan transformasi sosial.

Bahkan, berdasarkan temuan arsip, Suara Muhammadiyah tercatat sebagai media tertua di Indonesia yang terbit secara berkelanjutan hingga hari ini. Tradisi tersebut diperkuat dengan hadirnya Suara ‘Aisyiyah sejak 1926, yang diakui sebagai media perempuan tertua dan memperoleh rekor MURI.

Namun, bagi Roni, kekuatan sejarah saja tidak cukup. Jurnalis Muhammadiyah, menurutnya, memikul peran ganda: sebagai pelapor peristiwa sekaligus pembawa nilai. Prinsip-prinsip Al-Qur’an seperti Al-Ma’un sebagai spirit kebermanfaatan sosial, Al-‘Ashr tentang kesadaran waktu dan amal, serta Al-Hujurat ayat 6 sebagai landasan verifikasi informasi, harus menjadi etika dalam kerja jurnalistik.

Dalam konteks pendidikan, Roni menyoroti besarnya potensi sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai gudang konten positif.

Mulai dari prestasi siswa, inovasi guru, aktivitas ekstrakurikuler, hingga capaian kelembagaan, semuanya memiliki nilai berita yang kuat.

“Tantangannya bukan pada ketiadaan kebaikan, tetapi minimnya publikasi atas kebaikan tersebut,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan itu, ia mendorong peningkatan keterampilan jurnalistik di sekolah, optimalisasi website dan media sosial, pelibatan siswa dalam kegiatan jurnalistik, serta kolaborasi strategis dengan media, baik media internal Muhammadiyah maupun media umum.

Melalui Festival Pers dan Literasi ini, Roni berharap lahir generasi jurnalis Muhammadiyah yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga berkarakter dan berintegritas. Sebab, baginya, media adalah ruang pengabdian.

“Pers yang berintegritas dan literasi yang kuat adalah fondasi dakwah pencerahan Muhammadiyah,” tutupnya.(*)


(*)Agus Wirdono,M.Si




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Lampung


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

STATISTIK PENGUNJUNG

  • User Online : 1
  • Today Visitor : 108
  • Hits hari ini : 344
  • Total pengunjung : 165920