Menjemput Makna Hijrah: Menata Ulang Arah Hidup di Tengah Krisis Zaman

By Admin Web 15 Jun 2026, 19:37:24 WIB Opini
Menjemput Makna Hijrah: Menata Ulang Arah Hidup di Tengah Krisis Zaman

Oleh: Ma'ruf Abidin, Sekretaris PW Muhammadiyah Lampung


Muharram kembali hadir sebagai penanda pergantian tahun dalam kalender Islam. Namun lebih dari sekadar pergantian angka, Tahun Baru Hijriah sesungguhnya menawarkan ruang refleksi yang mendalam tentang arah perjalanan manusia. 

Baca Lainnya :


Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, pertanyaan mendasar yang patut diajukan adalah: apakah kemajuan yang kita capai hari ini benar-benar menghadirkan kehidupan yang lebih baik, atau justru membuat manusia semakin jauh dari ketenangan dan makna yang selama ini dicarinya?


Tidak dapat dimungkiri, manusia modern hidup dalam era yang penuh kemudahan. Kemajuan teknologi memungkinkan informasi mengalir tanpa batas, komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, dan berbagai aktivitas dapat dilakukan dengan lebih efisien. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul fenomena yang paradoksal.


Ketika peradaban semakin maju secara material, manusia justru menghadapi berbagai tekanan psikologis, sosial, dan spiritual yang semakin kompleks.


Ruang publik setiap hari dipenuhi berita tentang ketidakpastian ekonomi, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), meningkatnya biaya hidup, hingga berbagai ketegangan sosial yang menimbulkan kecemasan kolektif. Pada saat yang sama, arus informasi digital yang tidak pernah berhenti membuat manusia kehilangan ruang untuk merenung, mengenali dirinya, dan memaknai kehidupannya secara lebih mendalam.


Fenomena ini bukan sekadar persepsi. Dalam World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All (2022), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental telah menjadi salah satu tantangan terbesar abad ke-21.


Meningkatnya kasus kecemasan, depresi, dan tekanan psikologis menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan batin manusia. 


Temuan tersebut sejalan dengan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan bahwa kesehatan mental semakin menjadi isu strategis dalam pembangunan manusia Indonesia.


Akar persoalan ini sesungguhnya tidak hanya terletak pada tekanan ekonomi atau perubahan sosial yang cepat. Terdapat gejala yang lebih mendasar, yakni melemahnya ikatan sosial dan semakin kuatnya kecenderungan individualisme. Robert D. Putnam dalam Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000, hlm. 27–48) menyebut fenomena ini sebagai kemerosotan social capital atau modal sosial. Menurutnya, masyarakat modern mengalami penurunan kepercayaan, partisipasi sosial, dan keterikatan komunal yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.


Akibatnya, manusia modern hidup dalam paradoks yang mencolok. Teknologi membuat kita semakin terkoneksi, tetapi tidak selalu semakin dekat. 


Media sosial memperluas jaringan pergaulan, tetapi tidak otomatis memperkuat relasi yang bermakna. Kita hidup di tengah keramaian informasi, namun sering kali merasakan kesepian yang mendalam.

Dalam konteks inilah Muharram menemukan relevansinya. 


Kalender Hijriah sejak awal dibangun di atas peristiwa Hijrah, sebuah momentum yang tidak hanya menandai perpindahan fisik Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga melambangkan transformasi peradaban. 


Menariknya, ketika Khalifah Umar bin Khattab menetapkan sistem penanggalan Islam, para sahabat tidak memilih tahun kelahiran Nabi ataupun momentum turunnya wahyu pertama sebagai titik awal kalender. Mereka memilih Hijrah karena peristiwa itulah yang menandai lahirnya perubahan besar dalam kehidupan umat.


Pilihan tersebut mengandung pesan yang sangat kuat. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan tidak dimulai dari keadaan yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk keluar dari kebuntuan. Hijrah adalah simbol optimisme, ikhtiar, dan transformasi. Ia mengajarkan bahwa masa depan yang lebih baik hanya dapat diraih oleh mereka yang berani mengubah dirinya sendiri.


Pesan ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Jilid 6, 2002, hlm. 583–585) menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan hubungan erat antara perubahan sosial dan perubahan karakter manusia.


Dengan kata lain, transformasi masyarakat selalu berawal dari transformasi individu.

Karena itu, makna Hijrah tidak boleh direduksi hanya sebagai peristiwa sejarah. Hijrah adalah panggilan untuk melakukan pembaruan cara berpikir, memperbaiki orientasi hidup, serta membangun kembali kualitas diri yang lebih baik.


Sejarah Madinah memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai hal tersebut. Ketika kaum Muhajirin datang dalam kondisi serba terbatas, Rasulullah SAW tidak memulai pembangunan dengan memperkuat kekuasaan politik atau memperbesar aktivitas ekonomi semata. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun persaudaraan sosial.


Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum (2001, hlm. 183–190) menjelaskan bahwa masyarakat Madinah dibangun di atas fondasi ukhuwah, saling percaya, dan solidaritas. Kaum Ansar tidak sekadar menunjukkan empati, tetapi menghadirkan dukungan nyata melalui berbagi sumber daya dan kesempatan hidup. Model masyarakat seperti inilah yang kemudian melahirkan ketahanan sosial yang kuat.


Muhammad Hamidullah dalam The First Written Constitution in the World (1994, hlm. 11–23) bahkan menempatkan Piagam Madinah sebagai salah satu contoh awal tata sosial yang berhasil memadukan nilai spiritual, keadilan sosial, dan kohesi masyarakat dalam satu kesatuan yang utuh.

Pelajaran tersebut terasa sangat relevan bagi masyarakat Indonesia hari ini. 


Ketika tekanan ekonomi meningkat, yang dibutuhkan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penguatan solidaritas sosial. Ketika masyarakat menghadapi berbagai kesulitan, yang diperlukan bukan hanya kebijakan publik yang efektif, tetapi juga tumbuhnya kepedulian antarwarga.


Pandangan ini diperkuat oleh Hilman Latief dalam Islamic Philanthropy and Social Welfare in Indonesia (2013, hlm. 67–95) yang menunjukkan bahwa zakat, infak, sedekah, dan filantropi Islam memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat serta membantu kelompok rentan menghadapi berbagai tekanan ekonomi.


Pada saat yang sama, Hijrah juga menuntut transformasi pada dimensi yang lebih personal, yakni pembenahan jiwa. Ahmad Zainal Anbiya dalam artikel “Tazkiyatun Nafs dalam Mengembalikan Fitrah Manusia Modern” yang diterbitkan dalam Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol. 7 No. 1 Tahun 2023 (hlm. 133–148) menjelaskan bahwa salah satu problem utama manusia modern adalah dominasi orientasi materialistik yang menggeser dimensi spiritual kehidupan. 


Akibatnya, manusia memiliki banyak sarana untuk hidup, tetapi kehilangan makna hidup itu sendiri.


Muharram karena itu mengajarkan bahwa perubahan tidak semata-mata dimulai dari perbaikan keadaan eksternal, melainkan dari keberanian untuk menata ulang orientasi hidup. Ia mengajak manusia meninggalkan pesimisme menuju harapan, meninggalkan egoisme menuju kepedulian, dan meninggalkan sikap pasif menuju ikhtiar yang berkelanjutan.


Pada akhirnya, relevansi Hijrah di era modern terletak pada kemampuannya menghadirkan keseimbangan antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Hijrah mengingatkan bahwa ketenangan tidak lahir dari kelimpahan materi semata, melainkan dari kejernihan jiwa, kuatnya hubungan dengan Tuhan, dan kokohnya kepedulian terhadap sesama.


Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, pesan Hijrah tetap abadi: bahwa masa depan yang lebih baik tidak pernah lahir dari keluhan dan keputusasaan, melainkan dari keberanian untuk berubah, kesediaan untuk memperbaiki diri, dan komitmen untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan bersama.(**)

Editor: Guswir / Jurnalis




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Lampung


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

STATISTIK PENGUNJUNG

  • User Online : 16
  • Today Visitor : 123
  • Hits hari ini : 137
  • Total pengunjung : 164784