- Menjemput Makna Hijrah: Menata Ulang Arah Hidup di Tengah Krisis Zaman
- Refleksi 1448 Hijriah: Menemukan Makna Hijrah di Tengah Arus Modernitas
- BIKERSMU Lampung Siap Gas, Tebar Kebaikan
- Walikota Bandarlampung Akan Hadir di Musywil XXIII IPM Lampung
- PD Muhammadiyah Lampung Tengah Kukuhkan Pengurus Jagalmu Periode 2026-2031
- MTs Muhammadiyah Metro Pelepasan Siswa Kelas IX dan Wisuda Tahfidz
- SMP MuAD Metro Lepas 363 Siswa Angkatan IX
- PW Aisyiyah Lampung Resmikan Rumah Sehat Ibu dan Anak
- JagalMu Pringsewu Dikukuhkan, Langsung Gelar Dauroh Sembelih Halal
- Dikdasmen PNF PDM Metro Lepas Kontingen HW Ikut Kemah Penghela
Refleksi 1448 Hijriah: Menemukan Makna Hijrah di Tengah Arus Modernitas

Oleh: H. Ma'ruf Abidin, MSi - Sekretaris PW Muhammadiyah Provinsi Lampung.
Pergantian kalender sering kali berlalu begitu saja, terjebak dalam sebatas seremonial angka atau ucapan selamat yang memenuhi ruang digital. Namun, bagi umat Muslim, ketukan pintu 1 Muharram 1448 Hijriah membawa getaran yang jauh lebih dalam. Ini bukan sekadar penanda bahwa waktu terus bergulir, melainkan sebuah alarm spiritual yang memaksa kita untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menatap tajam ke depan.
Baca Lainnya :
- BIKERSMU Lampung Siap Gas, Tebar Kebaikan0
- Dikdasmen PNF PDM Metro Lepas Kontingen HW Ikut Kemah Penghela0
- Universitas Muhammadiyah Jakarta Tulang Bawang Diresmikan0
- Kunjungan Industri SMK Muhammadiyah se-Lampung ke Sektor Maritim dan Perikanan0
- Halal Bihalal LHKP PWM Lampung Bahas Pelatihan Kepemimpinan Kader Muda0
Sejarah mencatat bahwa Kalender Hijriah, yang diresmikan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA, tidak dimulai dari hari kelahiran atau wafatnya sang Nabi. Islam memilih peristiwa hijrah—sebuah aksi nyata perpindahan dari Makkah ke Madinah—sebagai titik nol peradabannya. Pilihan historis ini menegaskan sebuah filosofi fundamental: Islam adalah agama pergerakan, dinamis, dan berorientasi pada perubahan yang lebih baik.
Di era modern saat ini, esensi hijrah sering kali mengalami penyempitan makna. Sebagian orang menganggap hijrah sekadar perubahan visual atau atribut luar. Padahal, esensi terbesar dari momentum 1448 Hijriah ini adalah "Hijrah Qalbu" dan "Hijrah Perilaku".
Dalam konteks hari ini, berhijrah berarti memiliki keberanian untuk bermigrasi dari zona nyaman kelalaian menuju disiplin ibadah. Ia adalah transformasi dari sifat egois menuju kepedulian sosial, dari kebiasaan menyebarkan keluh kesah di media sosial menjadi pribadi yang penuh syukur dan solutif. Hijrah hari ini adalah perjuangan melawan arus disrupsi informasi yang sering kali mengikis moralitas dan kejujuran kita.
Bulan Muharram yang mulia ini hadir membawa paket kesempatan. Melalui amalan mulia seperti Puasa Asyura, kita diajarkan untuk menyucikan masa lalu. Melalui anjuran menyantuni anak yatim dan bersedekah, kita diingatkan bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.
Tahun 1448 Hijriah adalah lembaran putih yang baru saja dibuka. Menuliskan kisah terbaik di atasnya membutuhkan komitmen, bukan sekadar angan-angan. Mari jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk merancang strategi hidup yang lebih berkah, memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta, dan memperluas manfaat bagi sesama manusia. Sebab pada akhirnya, hijrah terbaik adalah ketika hari esok kita jauh lebih mulia daripada hari ini. (**)




.jpg)






