- Rakernas ALPTK PTMA di Mahan Agung, Gubernur Lampung: Investasi Masa Depan Adalah Pendidikan
- Resepsi Milad ke-109, Aisyiyah Tulang Bawang Komitmen Dakwah Kemanusiaan dan Ikrar Cinta Damai
- Muhammadiyah Tulang Bawang Safari Dakwah di Rawajitu Timur, Teguhkan Ideologi
- Muhammadiyah Kota Bandar Lampung Audiensi dengan BPN ATR, Bahas Sertifikat Wakaf
- Dikdasmen PNF Gelar Rakorwil, Bahas Turunan Kebijakan Nasional
- Muhammadiyah Lampung Terima Wakaf 9900 meter dari Keluarga Cik Ali Salim
- Rektor UM Lampung Kukuhkan 5 Dekan Baru
- Menjemput Makna Hijrah: Menata Ulang Arah Hidup di Tengah Krisis Zaman
- Refleksi 1448 Hijriah: Menemukan Makna Hijrah di Tengah Arus Modernitas
- BIKERSMU Lampung Siap Gas, Tebar Kebaikan
Muhammadiyah dan Tradisi Informasi: Media sebagai Pilar Pencerahan Umat

MUHAMMADIYAHLAMPUNG.OR.ID, Metro — Muhammadiyah memiliki tradisi panjang dalam dunia informasi dan jurnalistik sebagai bagian dari gerakan pembaruan Islam dan penguatan sosial kemasyarakatan.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Roni Tabroni, M.Si., Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam kegiatan Akademi Jurnalistik Muhammadiyah yang digelar pada 13 Desember 2025 di Universitas Muhammadiyah Metro.
Dalam materinya yang bertajuk “Muhammadiyah dan Tradisi Informasi”, Dr. Roni menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah menjadikan media sebagai instrumen dakwah, pencerahan, dan transformasi sosial. Hal ini ditandai dengan lahirnya Majalah Suara Muhammadiyah pada 13 Agustus 1915, yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan bersama Haji Fachrodin.
Baca Lainnya :
- Festival Pers dan Literasi Muhammadiyah Digelar di UM Metro0
- Muhammadiyah Tetapkan 13 Agustus jadi Hari Pers dan Literasi 0
- PP Muhammadiyah Instruksikan Infak Jumat Kemanusiaan0
- 330 KK Terisolir di Agam, MDMC Lampung Tempuh Jalur Ekstrem untuk Menjangkau0
- Relawan Muhammadiyah Lampung Pendampingan Psikososial dan Kesehatan0
“Dokumen artefak Suara Muhammadiyah yang ditemukan sejak edisi kedua menunjukkan bahwa majalah ini merupakan media tertua di Indonesia yang terbit secara berkelanjutan hingga hari ini,” ungkapnya.
Selain itu, Suara ‘Aisyiyah yang terbit sejak tahun 1926 juga tercatat sebagai media perempuan tertua dan memperoleh rekor MURI.
Lebih lanjut, Dr. Roni menjelaskan bahwa keberpihakan media Muhammadiyah tidak terlepas dari nilai-nilai pembaruan Islam dan gerakan sosial. Jurnalis Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai pelapor peristiwa, tetapi juga sebagai pemikir dan mubaligh. Dengan tugas ganda tersebut, jurnalis Muhammadiyah diharapkan mampu mentransfer informasi sekaligus mencerahkan umat, memerdekakan pemikiran, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas masyarakat.
Dalam konteks literasi media, Muhammadiyah memiliki prinsip dasar yang berakar kuat pada nilai-nilai Al-Qur’an, di antaranya Al-Ma’un sebagai spirit kebermanfaatan sosial, Al-‘Ashr tentang pentingnya waktu dan amal, serta Al-Hujurat ayat 6 sebagai landasan verifikasi informasi. Prinsip fastabiqul khairat juga menjadi ruh dalam menghadirkan konten yang kompetitif sekaligus membawa kebaikan.
Dr. Roni juga menekankan peran strategis lembaga pendidikan Muhammadiyah sebagai “gudang konten positif” yang kaya dan otentik. Berbagai aktivitas seperti kegiatan ekstrakurikuler, prestasi siswa inspiratif, inovasi guru dalam pembelajaran, hingga capaian institusional merupakan bahan berita bernilai tinggi yang selama ini belum terekspos secara optimal.
“Tantangannya bukan pada ketiadaan kebaikan, tetapi minimnya publikasi atas kebaikan tersebut,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia menawarkan dua langkah taktis, yakni peningkatan keterampilan jurnalistik serta pembangunan kolaborasi strategis dengan media, baik media internal Muhammadiyah maupun media umum.
Secara praktis, sekolah-sekolah Muhammadiyah didorong untuk mengoptimalkan blog atau website sekolah, memproduksi konten edukatif, melibatkan siswa dalam kegiatan jurnalistik, serta menjalin kolaborasi dengan Majelis Dikdasmen dalam menghadirkan serial _best practice_ guru Muhammadiyah.
Selain itu, sekolah juga diharapkan mampu menjembatani informasi dengan media afiliasi Muhammadiyah maupun media umum lainnya.
Melalui Akademi Jurnalistik Muhammadiyah ini, diharapkan lahir generasi jurnalis Muhammadiyah yang berkarakter, berintegritas, dan mampu menjadikan media sebagai sarana dakwah pencerahan yang relevan dengan tantangan zaman.
Penulis: Tri Hanifah (LPPA PDA Kota Metro)




.jpg)





