- Muhammadiyah Lampung Kirim Relawan Lagi ke Sumatera Barat, Kini Berjumlah 33
- Bukan ke Barak, SMAM Bangunrejo Kirim Siswa Bandel ke Balai Latihan Kerja
- Muhammadiyah Lampung Kirim Relawan Kloter 2 ke Sumatera Barat
- Diah Meirawati Paparkan Tantangan dan Strategi Pemberdayaan Perempuan Aisyiyah
- Tim Heritage MPI Lampung Telusuri Jejak Sejarah Muhammadiyah di Metro
- Pelatihan Digital Marketing untuk Perempuan Hebat, Wujudkan Kemandirian Ekonomi
- Akademi Jurnalistik Muhammadiyah Kupas Seni Menulis Berita Bernilai
- Harkit ke 107, Kwarwil HW Lampung Beri Tanda Kehormatan ke Tokoh-tokoh
- Ranting Pemuda Muhammadiyah se-Metro Barat Dilantik, Ini Pesan Ketua PDPM
- Menulis dan Menyunting Berita Ramah SEO: Jurnalisme Digital Muhammadiyah di Era Perubahan Informasi
H Mulyadi, Menakhodai Kebangkitan Muhammadiyah Tulang Bawang

Oleh: Guswir
Tulang Bawang — Milad Muhammadiyah ke-113 tidak hanya menjadi penanda perjalanan panjang persyarikatan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang sosok-sosok penggerak di daerah. Salah satunya adalah H. Mulyadi, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulang Bawang, yang kisahnya menjadi bukti bahwa kebesaran dan kontribusi tidak selalu lahir dari jalur pengkaderan formal.
Lahir dari latar “seberang” dan tumbuh dalam tradisi keagamaan yang ketat, Mulyadi justru menapaki jalan panjang menuju Muhammadiyah dari ruang-ruang pencarian pribadi. Di rumah sederhananya, ia berkisah dengan tenang saat menerima tim reporter muhammadiyahlampung.or.id didampingi MPI Daerah Tulang Bawang, Senin (24/11/2025).
Baca Lainnya :
- Mbah Santo, Pejuang Muhammadiyah dan Masih Kerabat AR Fachruddin0
- Buka Musypimda 1 Aisyiyah Tulang Bawang, Nurhayati Tegaskan Al Maidah Ayat 80
- Rektor UMPRI Hadiri Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 PDM Pringsewu0
- H Kasimun, Penjaga Stabilitas dan Tata Kelola Persyarikatan0
- Pelatihan Da i Multitalenta: Upgrading Skill Imam, Khatib Jumat dan Penyaji Kajian0
Dalam lingkungan keluarga, sebagian aktivitas keagamaan ia pandang sebagai sesuatu yang tidak sesuai tuntunan. “Mulai dari cara wudu sampai amalan sehari-hari, semuanya sangat ketat,” kenangnya.
Namun sebuah pertemuan mengubah alur hidupnya: perjumpaan dengan seorang kader Aisyiyah yang kelak menjadi istrinya. Perbedaan pandangan kerap menimbulkan perdebatan kecil, tetapi sang istri memilih jalan kesabaran.
“Ndak papa, yang penting ayah mau belajar,” ujarnya—kalimat sederhana yang kelak membuka pintu perubahan besar.
Rasa ingin tahu membuatnya rutin mengikuti kajian selama bertahun-tahun. Meski belum mengenal Muhammadiyah secara mendalam, ia sering mendampingi istrinya menghadiri kegiatan Aisyiyah. Perlahan ia mulai memahami bahwa apa yang dulu dianggapnya bid’ah justru memiliki dasar kuat dalam sunnah.
Sekitar 2015, ia diajak hadir dalam Musyawarah Daerah di Gedung Aji Baru. Di sana ia menyaksikan pola kerja Muhammadiyah yang rapi: pengelolaan amal usaha yang transparan, mekanisme koreksi, dan sistem kepemimpinan kolektif-kolegial yang teratur.
“Kalau pengelolanya tak amanah, bisa diingatkan bahkan diberhentikan. Ada mekanisme,” katanya.
Regenerasi dua periode mempertegas keyakinannya bahwa Muhammadiyah bukan ruang untuk mengumpulkan jabatan, melainkan medan pengabdian. Dari sanalah ia mulai merasa menemukan rumah.
“Inilah pelabuhan terakhir,” ucapnya mengingat momen penting itu.
Saat diamanahi sebagai Ketua PDM Tulang Bawang, tantangan datang bukan dari luar, tetapi dari lingkungan terdekat. Orang tuanya masih aktif di ormas lain. Namun pada hari pelantikan, Mulyadi mengumpulkan rekan-rekan yayasan tempat ia sebelumnya beraktivitas.
“Saya tidak mau amanah ini diwarnai hal lain,” tegasnya.
Sikap tegas itu menunjukkan keberanian untuk mengambil posisi penuh bagi Muhammadiyah.
Yang menarik, Mulyadi bukan sosok yang lahir dari kultur pengkaderan formal persyarikatan. Tidak melewati jenjang Ikatan Pelajar Muhammadiyah, IMM, ataupun ortom lainnya. Namun ketulusan, semangat belajar, dan rasa tanggung jawab menjadikannya motor perubahan di Tulang Bawang.
Di bawah kepemimpinannya, sejumlah capaian monumental berhasil diwujudkan:
1. Hibah SMK Muhammadiyah dari seorang dermawan di Jakarta yang kini menjadi aset persyarikatan.
2. Pembangunan SD Muhammadiyah Sang Surya tiga lantai dengan 24 ruang belajar yang ditargetkan selesai tahun ini.
3. Pembebasan lahan senilai hampir Rp1 miliar berkat gotong royong warga Muhammadiyah.
4. Rencana hibah 10 hektare tanah dan gedung 7 lantai dari Pemda Tulang Bawang yang tinggal menunggu paripurna.
5. Pengembangan MBS Menggala dengan pembukaan kampus 2 seluas satu hektare.
6. Terbitnya izin operasional sekolah Muhammadiyah baru pada tahun ini.
7. Persiapan pendirian SMP Muhammadiyah Sang Surya sebagai lanjutan dari SD yang telah berjalan.
Cabang dan ranting juga berkembang pesat. Silaturahmi digencarkan hingga 15 kecabangan terbentuk, dari sebelumnya hanya beberapa.
“Jumlah kita sedikit, tapi keberadaan kita harus mewarnai dan bermanfaat untuk umat,” tegasnya.
Perjalanannya banyak terinspirasi oleh sejumlah tokoh daerah seperti Mas Hanif Ismail, Saiful Hadi, Pak Didik, dan Pak Aminudin.
“Saya belajar bukan dari apa yang saya terima, tetapi dari apa yang bisa saya berikan,” ungkapnya.
Baginya, pengabdian di Muhammadiyah hari ini tidak seberat perjuangan para awalul al-awwalun. Tantangan terbesar justru pada komitmen menjalankan AD/ART dan meneladani semangat KH Ahmad Dahlan, Buya Hamka, hingga Kiai Bahrudin.
Ketua Pemuda Muhammadiyah Tulang Bawang, Joko Riyanto, menilai Mulyadi sebagai pemimpin yang visioner, penuh gagasan besar, dan bekerja tanpa pamrih untuk membesarkan persyarikatan.
Kisah H. Mulyadi adalah pengingat bahwa kekuatan Muhammadiyah bukan hanya lahir dari mereka yang tumbuh dalam sekolah-sekolah kader, tetapi juga dari orang-orang yang menemukan cahaya persyarikatan melalui pencariannya sendiri.
Dari jalan yang berbeda, ia menemukan Muhammadiyah sebagai rumah besar yang melahirkan ketulusan, amanah, dan keberlanjutan.
“Apa yang saya temukan di Muhammadiyah adalah ketulusan pengabdian. Di sinilah saya merasa pulang,” tutupnya.(*)











