Mbah Santo, Pejuang Muhammadiyah dan Masih Kerabat AR Fachruddin

By Admin Web 23 Nov 2025, 20:01:04 WIB Tokoh
Mbah Santo, Pejuang Muhammadiyah dan Masih Kerabat AR Fachruddin

Oleh: Guswir

Di usia 86 tahun, ketika banyak orang mulai lupa pada hari-hari kemarin, H. Susanto, atau akrab disapa Mbah Santo, masih menyebut angka itu dengan lantang.

“NBM saya… 420.806.” katanya.

Baca Lainnya :

Tanpa salah. Tanpa ragu, seakan nomor itu adalah bagian dari napasnya.

Ia duduk tenang ketika bercerita kepada Jurnalis Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) matanya tajam, suaranya khas agak keras namun siapa sangka hatinya lembut menyimpan penuh kasih, dan berwibawa.

Dan dari sana, perjalanan panjang itu pun dibuka kembali, seperti sebuah film kehidupan.

Segala yang tertanam pada dirinya tumbuh dari tanah yang sama melahirkan para cendekia dan aktivis Yogyakarta.

Di kota itulah ia mulai menempa diri di gerakan Organisasi Otonom (ORTOM) Pemuda Muhammadiyah (1956–1958). Ia berguru pada tokoh-tokoh ulung, termasuk Dr. Bison Wardi.

Saat aktif di Pemuda Muhammadiyah, Ia diberi amanah sebagai Bidang Penerangan, sebuah posisi strategis bagi pemuda yang kelak menjadi penjaga dakwah di tanah rantau.

Dan di antara sekian guru, satu nama menjadi cahaya jalan hidupnya adalah KH. AR Fakhruddin, Sosok legendaris yang bukan hanya menginspirasinya, tetapi juga memiliki hubungan kekerabatan dengannya.

Dari lingkungan itulah karakter Mbah Santo dibentuk, keras pada kemungkaran, lembut kepada umat.

Tahun 1958–1959, Mbah Santo mengajar di SMP Muhammadiyah Yogyakarta. Namun ekonomi keluarganya sulit. Hidupnya tersendat.

Di tengah kegundahan itu, muncul tekad yang mengubah seluruh hidupnya, kemudian Ia ingin merantau ke Lampung berdakwah sejauh mungkin, dan masih ingat jelas apa kata Ibunya menahan penuh haru kala itu

“Kamu wong di Jogja sudah kerja, kok malah mau pergi?”

Dan jawaban Mbah Santo yang ia ulang kepada MPI dengan mata berkaca menjadi sumpah hidupnya

 “Pokoknya saya mau berdakwah sampai mati.”

Lalu pada tahun 1962, ia meninggalkan semuanya, tanpa keluarga, tanpa saudara, tanpa kenalan, Menuju Lampung tanah asing yang kelak menjadi sejarahnya.

Saat tiba di Lampung (Tata kelola pemerintahan masih bergabung dengan Sumbagsel) tepatnya di Metro, Muhammadiyah masih setingkat cabang, Ia pun masih ingat jelas, saat bertemu Raden Sukijo dan Mur Hasan, merupakan dua tokoh yang pertama menyambutnya.

Ia sempat menjadi guru SD Muhammadiyah Sukadana, namun tidak bertahan, hingga akhirnya datang kesempatan dari Abdullah Umar, pencari guru untuk PGA, di situlah perjalanan dakwahnya menemukan akar.

Karena tak punya rumah, ia diarahkan tinggal di Panti Asuhan Budi Utomo, (saat ini SD Muhammadiyah Metro Pusat)

Tiga bulan lamanya ia hidup sederhana di sana sebuah fase yang justru memperkuat tekad hidupnya.

Dari titik itu, semua berubah, dan Metro menjadi rumah keduanya, tempat ia membangun sejarah.

Ketika negeri ini belum mengenal mobil dinas atau bantuan operasional,

Ketika jalan masih berupa tanah, Ketika jarak antar kampung tidak diukur, dengan kilometer, tapi dengan ketahanan kaki dan iman.

Mbah Santo ketika berdakwah, berkeliling ke Sukadana, Padang Ratu, Sribhawono, Labuhan Maringgai, Sekampung, semuanya dengan sepeda.

Ia tersenyum mengenang masa itu:

“Sarana dakwah dulu susah… tapi semangat tidak boleh lemah.” ucapnya

ia menceritakan,setiap pedal yang ia kayuh adalah bagian dari dakwah yang tidak pernah berhenti.

Sebagai guru di PGA, ia sadar satu hal bahwa saat itu penggerak Muhammadiyah masih sangat sedikit, Sementara cakupan dakwahnya sangat luas.

Maka ia memilih jalan paling strategis, melahirkan kader, ia bangga terhadap nama-nama besar kemudian tumbuh dari tangannya, Kasimun, Khoroni, Sujino, dan puluhan lainnya, yang kini menjadi tonggak pendidikan dan persyarikatan di Metro dan Lampung Tengah.

Ia mengenang dua muridnya, Kasimun dan Khoroni, sebagai pemuda paling unggul, terutama dalam bahasa Inggris kemampuan yang saat itu masih langka.

Dan ketika mengantar Sujino ke PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah) di Yogyakarta, ia menjadi satu-satunya pendamping dari Lampung.

Di PDM Lampung Tengah (saat Metro masih bergabung dengan Lamteng), Mbah Santo aktif di berbagai majelis:

- Anggota Majelis (1970)

- Ketua Majelis Tabligh (1985–1990)

- Ketua Majelis Tarjih (1990–1997)

Perannya tidak hanya administratif belaka melainkan strategis, membentuk arah dakwah dan tarjih di wilayah Lampung.

Prinsip Hidup yang Menjadi Warisan beliau adalah ia yang selalu ia tanamkan kepada para kader muda Muhammadiyah 

1. Satukan kekuatan, bina kebersamaan.

2. Jangan patah semangat. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Dan tokoh-tokoh yang ia idolakan menjadi kompas hidupnya, Mbah Daud Metro, KH. AR Fakhruddin, M. Jindar Tamimi, dan tentu KH. Ahmad Dahlan.

Di usianya yang 86 tahun, ia berkata pelan tetapi penuh kekuatan 

“Kader Muhammadiyah tidak boleh lemah. Kalau dulu tenaga sedikit saja kita bisa bergerak, Maka sekarang, dengan sarana lengkap, Tidak ada alasan untuk berhenti.” katanya

Mbah Santo bukan sekadar tokoh. Ia adalah penjaga nilai, penyambung sejarah, dan mata air semangat yang tidak pernah kering.

Dari jalan sepeda yang berdebu hingga podium Tarjih yang terhormat, perjalanan hidupnya adalah episode panjang seorang pejuang yang datang tanpa apa-apa… dan pulang dengan meninggalkan generasi penerus persyarikatan.(*)

Daftar Penghargaan Mbah Santo








Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Lampung


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

STATISTIK PENGUNJUNG

  • User Online : 4
  • Today Visitor : 421
  • Hits hari ini : 617
  • Total pengunjung : 80259