- Dikdasmen PNF PDM Metro Lepas Kontingen HW Ikut Kemah Penghela
- Universitas Muhammadiyah Jakarta Tulang Bawang Diresmikan
- Kunjungan Industri SMK Muhammadiyah se-Lampung ke Sektor Maritim dan Perikanan
- SMA Muhammadiyah Al-Ghifari Raih Dua Penghargaan di Lamtim Sustainability Week 2026
- Tingkatkan Profesionalisme Juru Sembelih, JAGALMU Pringsewu Gelar Pelatihan Asah Bilah
- Halal Bihalal LHKP PWM Lampung Bahas Pelatihan Kepemimpinan Kader Muda
- Ribuan Jamaah Sholat Idul Fitri 1447 H PWM Lampung di Halaman Gedung Wanita
- Refleksi Idul Fitri: Siapa yang Menang?
- Kembali ke Fitrah, Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi
- Daftar Lengkap Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Lampung
H Kasimun, Penjaga Stabilitas dan Tata Kelola Persyarikatan

Oleh : Guswir
Di usia 113 tahun, Muhammadiyah tidak hanya dikenang sebagai gerakan pembaharu, tetapi sebagai institusi yang menumbuhkan kader-kader yang bekerja senyap, stabil, dan konsisten. Dalam deretan panjang itu diceritakan kepada Jurnalis MPI bahwa H. Kasimun, merupakan sosok figur yang tidak tampil dengan retorika keras, namun ia melangkah dengan keteduhan sistematis. Ia bukan sekadar aktivis dakwah, tetapi arsitek nilai dan stabilitas organisasi.
Perjalanan H. Kasimun bukan potret biografi linear, melainkan proses institusionalisasi nilai. Tahun 1979, ketika sebagian anak seusianya masih bermain di halaman rumah, H.Kasimun sudah memasuki ruang pendidikan informal yang dibimbing oleh Almarhum H. Sadi BA dan Almarhum Muslim Nur.
Baca Lainnya :
- Pelatihan Da i Multitalenta: Upgrading Skill Imam, Khatib Jumat dan Penyaji Kajian0
- RSUM Metro Gelar Baitul Arqom untuk 39 Pegawai0
- H Bekti Satriadi, Sosok di Balik Gerak Kebaikan LazisMu Kota Metro0
- Jejak Tangan Dingin Khoeroni di SMK Muhammadiyah 3 Metro0
- Ketika Pelayanan Menjadi Dakwah Tanpa Kata0
Dari sinilah ia menyerap tiga pilar yang menjadi core values hidupnya: disiplin spiritual, adab, dan etos pengabdian. Nilai ini tidak berhenti sebagai wacana; ia mengendap menjadi sistem keyakinan yang membentuk karakter kepemimpinannya kelak.
Masa Taruna Melati (1986–1987) di SMP Muhammadiyah Sukadana kemudian mengasah leadership base melalui format pengkaderan yang terstruktur. Dibawah Kepemimpinan Budi Cipto Utomo sebagai Ketua IPM Provinsi kala itu, memberi dampak signifikan pada cara pandang H.Kasimun dalam membentuk karakter kepemimpinan, bukan hanya sebagai panggung, tetapi sebagai tanggung jawab institusional.
Setiap aktivitasnya di Ranting Mulyojati dan kecabangan di Bantul, menguatkan identitas gerakannya, di titik ini, benih kader dakwah itu mulai tumbuh.
Di tahun 1989 menjadi fase akselerasi. Di MAN 1 Lampung Tengah, ia bertemu para pembina seperti H. Susanto dan Almarhum H.Supoyo tokoh yang memperluas perspektif dakwahnya. Dakwah tidak lagi dipahami sebagai aktivitas ritual, melainkan manajemen perubahan sosial.
Ketika rekomendasi seleksi LIPIA Jakarta (1991) hadir, itu bukan sekadar peluang akademik, tetapi validasi atas kompetensinya. Gagal lolos bukan membuatnya mundur; ia membacanya sebagai _strategic redirection_ dari Allah, belokan takdir yang menyiapkan peran lebih relevan di wilayah gerakan.
Tahun 1992, ia memasuki Fakultas Ushuluddin UM Metro ekosistem akademik yang kini menjadi SD Muhammadiyah Metro Pusat. Ruang ini mengasah nalar kritiy dan analitisnya, metodologi berpikir, hingga etika ilmiah, di sinilah landasan teknokratiknya tumbuh.
Puncaknya, pada 1997 ia menjadi Wisudawan Terbaik I, indikator objektif atas performa akademik yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga etika kerja.
Tahun 2000, pemekaran wilayah Lampung Tengah menciptakan ruang baru bagi kader Muhammadiyah. H.Kasimun berada pada fase tersebut, ikut serta dalam konsolidasi organisasi dan penguatan struktur PCM.
Berdirinya PCM Metro Barat (2005) menjadi tonggak institusional penting. H.Kasimun dipercaya memimpin Majelis Tabligh PCM Metro Barat (2005–2010) amanah yang ia jalankan dengan metode kerja yang dikenal stabil, sistemik, dan teduh.
Karier organisasinya naik secara alamiah terbentuk:
- Pleno PCM (2010–2015)
- Ketua PCM Metro Barat (2015–2020)
Masa kepemimpinannya bersinggungan dengan krisis pandemi COVID-19. Di fase ini, kualitas berfikirnya tampak, dengan kebijakan yang berimbas pada perkembangan Persyarikatan:
- Membuat kebijakan terukur,
- Menjaga ritme organisasi,
- Menjaga suasana persyarikatan tetap santun dan kondusif,
Musyda Ke 4 PDM Kota Metro, kemudian dipercaya sebagai Pleno PDM dan kini Wakil Ketua PDM (2024–2028) yang membina beberapa majelis strategis. Ia juga duduk sebagai unsur pimpinan BPH RSU Muhammadiyah Metro, posisi yang memerlukan integritas, ketepatan kebijakan, serta kemampuan pengawasan berstandar layanan publik.
selain aktivitas di persyarikatan, sejak 1999, H.Kasimun berkhidmat sebagai ASN Kemenag. Ia memulai sebagai Penyuluh Agama Islam di Purbolinggo lingkungan yang memperkuat kemampuannya dalam public communication dan community engagement.
Berjalannya waktu, H.Kasimun mutasi ke Kemenag Lampung Tengah (2018) dan kemudian Bandar Lampung (2020–sekarang) semakin menajamkan profesionalismenya dalam pelayanan publik.
Nilai Inti: Parameter Kerja dan Identitas Hidup
H. Kasimun merangkum nilai kerjanya dalam satu kalimat sederhana namun berbobot:
“Bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.”
"Dalam perspektif teknokratik, prinsip ini adalah parameter orientasi dampak bahwa ukuran kesuksesan bukan jabatan, tetapi kontribusi yang dapat diverifikasi" kata Ketua PPK (Pemilu 2004–2009)
Kekagumannya pada pemikiran Prof. Din Syamsuddin dan Prof. Haedar Nashir memperkuat orientasinya pada:
- Moderasi gerakan,
- Rasionalitas dakwah,
- Komitmen terhadap tajdid,
- Keberlanjutan organisasi.
H. Kasimun adalah bukti bahwa kader Muhammadiyah dapat tumbuh dari ruang sederhana, namun mampu menapaki peran kompleks dengan menjaga konsistensi nilai. Ia tidak bergerak dengan sorotan, tetapi dengan sistem. Ia tidak memperbesar dirinya, melainkan memperkuat organisasinya.
Ia tidak berangkat dari ambisi, tetapi dari kesadaran nilai.
Tidak membangun citra, tetapi kapasitas.
Tidak tampil gegap gempita, tetapi konsisten dan berkesinambungan.
Dan keyakinannya tetap sama:
“Selama kita berjamaah dan bertawakal, Allah tidak akan meninggalkan pejuang dakwah.”
Penutup: Jejak Senyap yang Menguatkan Gerakan
Di usia 113 tahun Muhammadiyah, perjalanan H. Kasimun bukan hanya catatan individu, tetapi cermin bagaimana persyarikatan membentuk, membina, dan menguatkan kader-kader yang bekerja dalam kesunyian.
Ia tidak hanya berjalan dalam alur pengabdian, tetapi mengelola keberlanjutan dakwah sebagai sistem nilai, menjaga stabilitas organisasi, dan menunjukkan bahwa kekuatan gerakan modern dibangun melalui ketenangan, keteguhan, dan kesungguhan kerja yang terus menerus.(*)




.jpg)






