- Dikdasmen PNF PDM Metro Lepas Kontingen HW Ikut Kemah Penghela
- Universitas Muhammadiyah Jakarta Tulang Bawang Diresmikan
- Kunjungan Industri SMK Muhammadiyah se-Lampung ke Sektor Maritim dan Perikanan
- SMA Muhammadiyah Al-Ghifari Raih Dua Penghargaan di Lamtim Sustainability Week 2026
- Tingkatkan Profesionalisme Juru Sembelih, JAGALMU Pringsewu Gelar Pelatihan Asah Bilah
- Halal Bihalal LHKP PWM Lampung Bahas Pelatihan Kepemimpinan Kader Muda
- Ribuan Jamaah Sholat Idul Fitri 1447 H PWM Lampung di Halaman Gedung Wanita
- Refleksi Idul Fitri: Siapa yang Menang?
- Kembali ke Fitrah, Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi
- Daftar Lengkap Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Lampung
Mukhisban, dari IPM Menjaga Administrasi Persyarikatan

Oleh : Guswir
KISAH TOKOH & INSPIRATIF
Memperingati Milad Muhammadiyah ke–113
Baca Lainnya :
- H Kasimun, Penjaga Stabilitas dan Tata Kelola Persyarikatan0
- H Daud Siddiq, Penjaga Ingatan, Penanda Arah dan Saksi Sejarah Muhammadiyah Metro0
- Kajian Triwulan IPM Metro Pusat 0
- Milad SMPM 1 Sendang Agung, Prof Sudarman: Orang Tua Mitra Strategis Dalam Membentuk Karakter Anak0
- IPM Kota Metro Gelar SEMILOKDA0
“Mukhisban: Administratur Persyarikatan yang Menjadikan Konsistensi sebagai Warisan Peradaban”
Di usia Muhammadiyah yang ke-113, kita tidak sekadar merayakan panjangnya perjalanan sebuah gerakan pencerahan, tetapi juga menelusuri jejak para kader yang menghidupkan nadi organisasi melalui kerja-kerja senyap. Mereka mungkin tidak tampil di panggung besar, namun perannya menentukan arah tumbuh dan kokohnya persyarikatan.
Dalam obrolan santai, digedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, Mukhisban sesekali menoleh ke jurnalis MPI, dalam menjawab setiap obrolan di pagi itu, sembari mengerjakan pekerjaannya.
Mukhisban seorang guru, organisator, sekaligus teknokrat persyarikatan yang membangun kontribusinya melalui konsistensi dan ketekunan selama lebih dari empat dekade. Salah satu nama yang patut diangkat sebagai arsitek ketenangan organisasi.
Perjalanan panjang itu dimulai dari IPM Ranting di SPG Muhammadiyah Metro pada tahun 1983, sebuah fase yang menjadi kawah candradimuka, bagi pembentukan karakter.
Di ruang-ruang rapat kecil para pelajar Muhammadiyah, Mukhisban ditempa: belajar membaca persoalan, merapikan administrasi, mengelola forum, hingga memahami etika komunikasi dalam kultur organisasi.
Dari sinilah pola khas Mukhisban terbentuk:
tenang dalam bekerja, rapi dalam mencatat, dan selalu menuntaskan amanah hingga tuntas tanpa menunda.
Bila sebagian orang menjadikan organisasi sebagai persinggahan singkat, Mukhisban justru memilih memperpanjang langkahnya. Mulai dari tingkat Cabang hingga Daerah, ia terus hadir di ruang-ruang strategis:
Ketua IPM Cabang Metro (1986–1988)
Ketua IPM Daerah Lampung Tengah (1988–1990)
Wakil Sekretaris Pemuda Muhammadiyah LT (1991–1994)
Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Metro Raya (1996–1998)
Sekretaris Eksekutif PDM Kota Metro (1990–2025)
Sekretaris Majelis Tarjih (1995–2000)
Sekretaris Majelis Wakaf (2000–2005)
Wakil Sekretaris PDM Kota Metro (2015–2022)
Lebih dari 40 tahun pengabdian ini bukan sekadar catatan biodata, melainkan narasi keteguhan seorang kader, yang menghidupkan organisasi melalui ketelitian prosedur, ketepatan administrasi, dan dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam logika teknokratik organisasi, sosok seperti Mukhisban adalah penjaga stabilitas sistem: memastikan setiap keputusan tersimpan jejaknya, setiap program memiliki catatan, dan setiap amanah berjalan sesuai kaidah persyarikatan.
Tidak hanya di struktur organisasi, kontribusi Mukhisban juga menguat di Amal Usaha Muhammadiyah. Di sana ia turut mengelola, memperkuat, sekaligus mencerdaskan melalui peran-peran berikut:
Bendahara Pembantu SD Muhammadiyah Metro (1985–1986)
Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Metro (1987–1989)
Wakil Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Metro (2008–2012)
Guru Tahsin Ponpes Darul Arqom Metro (1984–1998)
Guru Al-Islam SMA Muhammadiyah 1 Metro (1993–2023)
Baginya, lembaga pendidikan bukan sekadar ruang formal, tetapi tempat menanam nilai. Ia meyakini bahwa mengajar adalah cara menanam akhlak dan disiplin, sedangkan mengabdi adalah cara merawat keberlangsungan nilai itu.
Dalam sebuah ungkapan yang mencerminkan prinsip hidupnya, ia berkata:
“Kekuatan sebuah gerakan lahir dari mereka yang bekerja dalam diam, tanpa menuntut perhatian.”
Mukhisban adalah contoh keteladanan yang tumbuh dari keheningan. Tidak mencari sorotan, namun ketidakhadirannya akan meninggalkan ruang kosong. Ia bukan orator, bukan pula pengambil keputusan tertinggi, tetapi ia adalah:
- Penyusun dokumen,
- Pengatur alur rapat,
- Penjaga masa transisi,
-Perekam sejarah, sekaligus penegak standar tata kelola organisasi.
Dalam pandangan Jurnalis MPI, sosok seperti ini adalah “institutional memory” orang yang memastikan organisasi terus bergerak tanpa kehilangan arah.
Dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-113, kita belajar bahwa perjalanan panjang persyarikatan selalu ditopang oleh dua jenis energi:
1. Energi gagasan para pemikir dan pengambil keputusan,
2. Energi ketekunan dari mereka yang bekerja senyap, menjaga sistem tetap rapi dan berkelanjutan.
Mukhisban berdiri kokoh pada energi kedua energi yang jarang dipuji, namun justru paling menentukan keberlanjutan organisasi.
Sikapnya yang tenang, wibawanya yang sederhana, serta sorot mata yang menyimpan integritas mencerminkan perjalanan hidup yang kokoh oleh prinsip.
Ia pernah berkata,
“Saya hanya ingin menjadi bagian kecil yang menjaga agar persyarikatan ini terus bergerak dalam tertib dan terang.”
Pada akhirnya, kisah Mukhisban adalah cahaya kecil yang konsisten menerangi ruang gelap. Di milad ke-113 ini, kisahnya bukan sekadar catatan personal, tetapi sebuah pengingat bahwa:
Dakwah sering kali tidak lahir dari panggung besar, melainkan dari meja sederhana
yang disentuh dengan disiplin, kesungguhan, dan keikhlasan.
Dan begitulah Muhammadiyah berdiri lebih dari satu abad ditopang tangan-tangan tenang yang bekerja tanpa henti, demi menebar pencerahan dari generasi ke generasi.(*)




.jpg)






