- Muhammadiyah Lampung Kirim Relawan Lagi ke Sumatera Barat, Kini Berjumlah 33
- Bukan ke Barak, SMAM Bangunrejo Kirim Siswa Bandel ke Balai Latihan Kerja
- Muhammadiyah Lampung Kirim Relawan Kloter 2 ke Sumatera Barat
- Diah Meirawati Paparkan Tantangan dan Strategi Pemberdayaan Perempuan Aisyiyah
- Tim Heritage MPI Lampung Telusuri Jejak Sejarah Muhammadiyah di Metro
- Pelatihan Digital Marketing untuk Perempuan Hebat, Wujudkan Kemandirian Ekonomi
- Akademi Jurnalistik Muhammadiyah Kupas Seni Menulis Berita Bernilai
- Harkit ke 107, Kwarwil HW Lampung Beri Tanda Kehormatan ke Tokoh-tokoh
- Ranting Pemuda Muhammadiyah se-Metro Barat Dilantik, Ini Pesan Ketua PDPM
- Menulis dan Menyunting Berita Ramah SEO: Jurnalisme Digital Muhammadiyah di Era Perubahan Informasi
Ana Morinda, Dari Nasyiah Hingga Ketua DPRD

Oleh: Guswir
Dalam hangatnya suasana Milad Muhammadiyah 113, ketika kisah-kisah pengabdian para kader kembali menjadi cermin perjalanan panjang persyarikatan, muncul satu nama yang belakangan kian sering diperbincangkan publik.
Ana Morinda perjalanan Kartini Muhammadiyah ini, bukan sekadar jejak aktivisme, melainkan rangkaian keputusan berani yang membawanya dari ruang kecil perkaderan Nasyiatul Aisyiyah (NA) hingga kursi pimpinan lembaga legislatif daerah (DPRD Kota Metro)
Baca Lainnya :
- Arah Narasi Keteguhan Seorang Agus Sujarwanta0
- H Mulyadi, Menakhodai Kebangkitan Muhammadiyah Tulang Bawang0
- Mbah Santo, Pejuang Muhammadiyah dan Masih Kerabat AR Fachruddin0
- Buka Musypimda 1 Aisyiyah Tulang Bawang, Nurhayati Tegaskan Al Maidah Ayat 80
- Rektor UMPRI Hadiri Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 PDM Pringsewu0
Meski telah menempuh banyak fase penting dalam karier publik, Ana tetap memosisikan dirinya sebagai murid yang tak pernah selesai belajar.
“Saya berterima kasih atas kesempatan ini, meski merasa belum memberikan banyak kepada Muhammadiyah,” tuturnya pelan melalui pesan singkat WhatsApp.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyiratkan kerendahan hati yang hampir jarang ditemukan pada figur-figur publik di panggung politik.
Ana mengenang 2010 sebagai pintu kecil yang membuka jalan panjang kehidupannya. Dari ruang perkaderan NA, ia menyerap nilai keikhlasan, tanggung jawab, dan etos kerja—tiga pondasi yang kelak menguatkannya di dunia yang penuh tekanan.
“Saya masih awal di NA saat itu. Kisaran 2010 rasanya,” kenangnya.
Dari organisasi perempuan Muhammadiyah (NA) itu pula, ia mulai dipercaya mengemban amanah di Bidang Ekonomi Muhammadiyah Metro, sebuah posisi yang menuntut kreativitas dan kecakapan menggerakkan kemandirian organisasi.
Ketika ditanya bagaimana ia menghadapi dinamika organisasi, politik, dan pekerjaan yang tak jarang melelahkan, Ana menjawab dengan prinsip sederhana namun kuat:
“Saya memulai hari dengan keyakinan bahwa Allah atur semuanya.
Mengakhiri hari dengan rasa syukur pada Allah, dan mengucapkan terima kasih pada diri sendiri. Jadi… enjoy my life.” ungkepnya
Di balik senyum tenangnya, tersimpan filosofi hidup yang menuntunnya melewati tekanan politik dan amanah publik yang berlapis-lapis.
Perjalanan politik Ana bukan cerita singkat. Dari gedung dewan hingga ruang-ruang strategis organisasi nasional, ia membuktikan dirinya mampu hadir dengan integritas dan ketegasan.
Di dunia pemerintahan dan politik, ia pernah memegang beberapa posisi penting:
- Wakil Ketua DPRD (2009)
- Ketua DPRD (2014)
- Wakil Ketua DPRD (2019–2020)
Sementara dalam keseharianya, ia pernah dipercaya di berbagai posisi strategis, dari tahun ke tahun.
- Sekretaris & Ketua DPC PDI Perjuangan Metro (2010–2024)
- Wasekjen APEKSI Indonesia (2015–2020)
- Ketua Kwarcab Pramuka Metro (2015–2020)
- Wakil Ketua Bina Muda Kwarda Lampung (2020–2025)
Amanah yang saling bertumpuk itu justru memperlihatkan kedalaman karakter Ana—mampu menyesuaikan diri di berbagai ruang publik tanpa kehilangan akar nilai Muhammadiyah.
Ketika mengungkap siapa yang paling membentuk dirinya, Ana tak berpikir lama.
“Ibu saya. Perempuan aktivis, cerdas, berwawasan luas, dan egaliter,” jawabnya.
Munawarah Ais bukan sekadar ibu. Ia adalah kompas moral yang membimbing Ana sejak kecil, sekaligus energi yang mendorongnya tetap lurus walau berada di tengah hiruk-pikuk politik.
Di tengah banyaknya agenda, rapat, dan tanggung jawab publik, Ana memegang teguh prinsip hidup yang ringkas namun sarat makna:
“Rencanakan, jalankan, hasilnya serahkan kepada Allah.” katanya
Prinsip itu menjadi pondasi dalam setiap langkah—baik ketika memegang amanah organisasi, jabatan pemerintahan, maupun dalam memilih arah hidup.
Sosok yang Menyala dalam diam, merupakan kisah perjalanan Ana adalah bukti bahwa seorang kader Muhammadiyah bisa hadir dalam berbagai gelanggang sosial politik di masyarakat, hingga ruang kebijakan publik tanpa kehilangan jati diri.
Dari NA hingga DPRD, dari ruang pengkaderan hingga gelanggang pengambilan keputusan, Ana menghadirkan pesan yang kuat terhadap pengabdian tidak menunggu panggung besar ia tumbuh dari ketulusan hati dan keberanian melangkah.
Dalam momentum Milad Muhammadiyah, kisah Ana menjadi inspirasi baru bagi generasi muda persyarikatan diharapkan memiliki nilai-nilai Muhammadiyah yang ikhlas, amanah, dan berkemajuan bisa menjadi suluh yang menerangi jalan hingga ke ruang-ruang kekuasaan.(*)











