- Jatam Lampung Selatan Bimtek Agribisnis Ternak Unggas
- Jatam Metro Bergerak, Garap Sektor Kemitraan Unggas
- SMP Muhammadiyah 3 Metro Resmi Berdiri Kantor Layanan LazisMu
- Milad ke-18 RSU Muhammadiyah Metro, Teguhkan Dakwah Kesehatan
- Majelis Tabligh PWM Lampung Gelar Pelatihan Muballigh
- Rapim HW Lampung 2026, Bahas Program Kerja Nyata dan Terasa Manfaatnya
- Giyono, Berawal dari Makasa IMM Tahun 1992
- Muhammadiyah Lampung Kirim 10 Relawan Non Medis Ke Aceh
- Tahun 2026 PWM Lampung Fokus Penataan Aset Organisasi dan Aksi Program Berdampak
- Reporter Cilik Jadi Ikhtiar MPI Cetak Generasi Literasi Berkemajuan
Giyono, Berawal dari Makasa IMM Tahun 1992

Perjalanan Giyono, S.Ag., Menjaga Nilai dari Idealisme hingga Integritas Publik
Baca Lainnya :
- Reporter Cilik Jadi Ikhtiar MPI Cetak Generasi Literasi Berkemajuan0
- PDM Kota Metro Akuisisi Sekolah, Sekarang Menjadi SDMu Buya Hamka0
- Muscab IMM Metro Usung Tema Revitalisasi dan Modernisasi Gerakan0
- Lazismu Kota Metro Gelar Pelatihan Guru TPQ Kreatif0
- Di UMKAL, Maruf Abidin: Baitul Arqom Pintu Masuk Bermuhammadiyah0
MUHAMMADIYAHLAMPUNG.OR.ID, Metro - Semua bermula dari kampus, bukan dari panggung kekuasaan, bukan pula dari hiruk-pikuk politik praktis, bagi Giyono, S.Ag., kampus adalah ruang pertama belajar tentang nilai, etika, dan tanggung jawab sosial—bekal yang kelak ia bawa hingga ke medan pengawasan Pemilu.
Baginya Kampus adalah Tempat Nilai Ditanam, kala itu tahun 1992, saat mengikuti MAKASA IMM Komisariat IAIN Fakultas Tarbiyah Metro, Giyono belum berbicara soal demokrasi, apalagi pengawasan Pemilu.
Yang ia pelajari kala itu sederhana namun mendasar: disiplin berpikir, keberanian bersuara, dan kesediaan bertanggung jawab atas pilihan.
Ketika terpilih sebagai Ketua IMM Komisariat IAIN Fakultas Tarbiyah Metro (1994–1996), ia mulai mengenal makna kepemimpinan yang sesungguhnya.
"Memimpin bukan tentang perintah, tetapi tentang mendengar, bukan tentang kuasa, tetapi tentang amanah" katanya kepada Jurnalis
Pengalaman itu berlanjut saat ia terlibat sebagai anggota IMM Cabang Metro dan kemudian aktif di Senat Bidang Kaderisasi Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung.
Di ruang-ruang diskusi kampus, Giyono belajar bahwa perbedaan pendapat bukan ancaman, melainkan kekayaan intelektual.
Transisi bermula dari aktivisme ke pengabdian sosial, menghantarkan ia selepas kampus, idealisme tidak ia tinggalkan.
Ia justru membawanya turun ke masyarakat, melalui Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah, Giyono belajar bahwa nilai harus membumi, menyentuh realitas sosial, dan menjawab persoalan umat.
Di fase ini, ia mulai berhadapan dengan kenyataan tentang idealitas seringkali bertabrakan dengan kepentingan, dan integritas diuji bukan di ruang seminar, tetapi di lapangan.
Pengalaman mengelola kader, memimpin majelis, dan menyatukan beragam karakter manusia membentuk keteguhan sikapnya.
Inilah fase yang secara perlahan menyiapkan dirinya untuk peran yang lebih berat: menjaga keadilan publik.
Jabatan pengawas pemilu merupakan ujian integritas, ketika dipercaya menjadi Ketua Panwaslu dan Panwaslih Kota Metro (2012–2015), Giyono memasuki babak baru pengabdian.
Ia tidak lagi berbicara atas nama organisasi, melainkan atas nama hukum dan nurani.
Pengawasan Pemilu mengajarkannya satu hal penting yakni
netralitas adalah harga mati.
Di tengah tekanan politik, godaan kepentingan, dan sorotan publik, nilai-nilai yang ia pelajari sejak kampus kembali diuji.
Keberanian menyampaikan kebenaran, keteguhan menolak intervensi, serta kesabaran menghadapi kritik menjadi keseharian.
Ujian itu berlanjut ketika ia dipercaya sebagai Anggota Bawaslu Kota Metro (2018–2023).
Baginya, demokrasi bukan sekadar prosedur lima tahunan, melainkan amanah moral yang harus dijaga setiap saat.
Benang merah itu nilai yang tak berubah, dari organisasi kampus hingga pengawas Pemilu, ada satu benang merah yang tak pernah putus dalam perjalanan Giyono: nilai.
Nilai yang ia pelajari di IMM.
Nilai yang ia rawat di Muhammadiyah.
Nilai yang ia jaga di ruang publik.
“Jabatan bisa berganti, sistem bisa berubah,” ujarnya suatu ketika,
“tetapi integritas harus tetap berdiri di tempat yang sama.” ucapnya dengan nada rendah.
Perjalanan Giyono, S.Ag. menunjukkan bahwa demokrasi yang sehat tidak lahir tiba-tiba.
Ia tumbuh dari proses panjang kaderisasi, pendidikan nilai, dan keberanian menjaga nurani bahkan ketika berada di titik paling sunyi dari kekuasaan.
(Guswir)











