- Kunjungan Industri SMK Muhammadiyah se-Lampung ke Sektor Maritim dan Perikanan
- SMA Muhammadiyah Al-Ghifari Raih Dua Penghargaan di Lamtim Sustainability Week 2026
- Tingkatkan Profesionalisme Juru Sembelih, JAGALMU Pringsewu Gelar Pelatihan Asah Bilah
- Halal Bihalal LHKP PWM Lampung Bahas Pelatihan Kepemimpinan Kader Muda
- Ribuan Jamaah Sholat Idul Fitri 1447 H PWM Lampung di Halaman Gedung Wanita
- Refleksi Idul Fitri: Siapa yang Menang?
- Kembali ke Fitrah, Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi
- Daftar Lengkap Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Lampung
- Lazismu Lampung Salurkan Program Back To Masjid
- Lazismu Ajak Umat Wujudkan Pusat Dakwah Muhammadiyah di Lampung
Perpustakaan dan Literasi Inklusif adalah Nutrisi literatur

MUHAMMADIYAHLAMPUNG.OR.ID, Metro - Koordinator Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Provinsi Lampung menegaskan bahwa gerakan literasi dan penguatan peran perpustakaan merupakan langkah strategis dalam menegakkan martabat bangsa di era digital saat ini.
Baca Lainnya :
- MDMC Terverifikasi WHO, RSU Muhammadiyah Metro Ambil Peran di Tim Global0
- MDMC Terverifikasi WHO, RSU Muhammadiyah Metro Ambil Peran di Tim Global0
- Pimpinan baru Pemuda Muhammadiyah Lampung Tengah Gelar Rakerda0
- LPCRPM PWM Lampung Siapkan Cabang Ranting Masjid Unggulan di Dente Teladas0
- Syiar Dakwah Muhammadiyah Lampung Hingga Pelosok Dente Teladas Tulang Bawang0
Hal ini diungkapkan oleh Kordinator Relima Provinsi Lampung Agus Riyanto, selaku kordinator Relima Provinsi Lampung, kepada Jurnalis Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kota Metro, bahwa Perpustakaan dan Literasi Inklusif adalah Nutrisi literatur, ia menyampaikan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, melainkan pusat pemberdayaan masyarakat yang membuka akses pengetahuan bagi semua kalangan.
“Literasi Seperti Perpustakaan sebagai Pusat Belajar Warga sekaligus Pusat Pemberdayaan. Di sinilah peran Relima hadir untuk memastikan literasi benar-benar inklusif dan berdampak,” ujarnya.

Lebih lanjut, Koordinator Relima Lampung juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perpustakaan, Majelis Pustaka dan Informasi (milik Muhamadiyah) lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan. Menurutnya, gerakan literasi akan kuat bila seluruh elemen bangsa turut bergerak bersama.
“Kami ingin menghadirkan literasi yang hidup di tengah masyarakat dari kelurahan hingga tingkat kota agar semua warga dapat merasakan manfaatnya tanpa terkecuali,” tambahnya.
Gerakan literasi inklusif yang diinisiasi Relima Provinsi Lampung ini, diharapkan mampu memperkuat peran perpustakaan, baik di sekolah, masjid dan mushola, maupun pojok baca lainnya, sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat dan menjadi bagian penting dalam upaya membangun bangsa yang cerdas, berdaya, dan bermartabat.
(Guswir)




.jpg)






