- Kunjungan Industri SMK Muhammadiyah se-Lampung ke Sektor Maritim dan Perikanan
- SMA Muhammadiyah Al-Ghifari Raih Dua Penghargaan di Lamtim Sustainability Week 2026
- Tingkatkan Profesionalisme Juru Sembelih, JAGALMU Pringsewu Gelar Pelatihan Asah Bilah
- Halal Bihalal LHKP PWM Lampung Bahas Pelatihan Kepemimpinan Kader Muda
- Ribuan Jamaah Sholat Idul Fitri 1447 H PWM Lampung di Halaman Gedung Wanita
- Refleksi Idul Fitri: Siapa yang Menang?
- Kembali ke Fitrah, Menjaga Bumi sebagai Amanah Ilahi
- Daftar Lengkap Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Lampung
- Lazismu Lampung Salurkan Program Back To Masjid
- Lazismu Ajak Umat Wujudkan Pusat Dakwah Muhammadiyah di Lampung
Hadirkan Lima Tokoh Agama, PWNA Lampung Gelar Dialog Interaktif Moderasi Beragama

Keterangan Gambar : Hadirkan Lima Tokoh Agama, PWNA Lampung Gelar Dialog Interaktif Moderasi Beragama
MUHAMMADIYAHLAMPUNG.OR.ID, Bandarlampung- Dalam rangka puncak kegiatan Breaking Down The Walls Day (BDWD) Faith In Harmony: Best Friends Forever, Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PWNA) Lampung menyelenggarakan Dialog Interaktif Moderasi Beragama yang menghadirkan lima tokoh agama dari lintas keyakinan, 2 Mei 2025.
Kegiatan ini dihadiri oleh pemuka agama Islam Prof Sudarman, Bhante Pannajoto Thera dari agama Buddha, Romo Philipus Suroyo dari Katolik, Pendeta Stevanus Wardoyo dari Kristen, serta Ida Bagus Putu Mambal dari agama Hindu. Dialog dimoderatori oleh Sekretaris PWNA Lampung, Jeni Rahmawati.
Baca Lainnya :
- PWNA Lampung menggelar pelatihan #BreakingDowntheWalls Best Friend Forever0
- Nasyiatul Aisyiyah Lampung dan Tular Nalar Mafindo Gelar Akademi Digital Lansia Menghadapi Tantangan0
- PWNA Lampung Minta Masyarakat Terus Kawal Dan Awasi DPR dan MK0
Dialog berlangsung hangat dan penuh makna. Masing-masing tokoh agama menyampaikan perspektifnya tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman.
Romo Philipus Suroyo, yang akrab disapa Romo Roy, menekankan bahwa pertemuan antarumat beragama bukanlah ancaman terhadap keyakinan, melainkan justru memperkuat keimanan masing-masing.
“Pertemuan lintas agama tidak membuat orang menyimpang dari agamanya. Justru membuat orang Katolik makin Katolik, orang Islam makin Islam,” ujarnya.
Ia juga mengajak peserta untuk membanjiri media sosial dengan konten positif sebagai respon terhadap maraknya intoleransi digital.
Pendeta Stevanus Wardoyo menambahkan, “Manusia harus menyadari bahwa kita semua ciptaan Tuhan. Tugas kita adalah mendekatkan diri kepada-Nya, agar kebencian dan perpecahan sirna, dan muncullah teposeliro atau toleransi.”
Sementara itu, Ida Bagus Putu Mambal dari agama Hindu menjelaskan bahwa moderasi beragama sejatinya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari umat Hindu. “Kita tumbuh dari alam dan akan kembali ke alam. Maka kita perlu saling asah, asih, asuh—saling memahami, menyayangi, dan membimbing,” tuturnya.
Bhante Pannajoto Thera dari agama Buddha menyampaikan bahwa akar dari intoleransi adalah egoisme. “Untuk menghilangkan intoleransi, kita harus belajar tidak bersifat eksklusif. Seperti maestro orkestra, kita harus menghargai instrumen lain, meski tidak kita mainkan sendiri,” ungkapnya.
Perwakilan dari agama Islam, Prof Sudarman, menyatakan apresiasinya terhadap PWNA Lampung. “Saya bangga Nasyiatul Aisyiyah mengadakan kegiatan dialog seperti ini. Anak muda harus menjadi garda depan dalam menyuarakan toleransi dan membangun Lampung yang damai,” katanya.
Kegiatan dialog interaktif moderasi beragama ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai latar belakang keagamaan dan organisasi kepemudaan. Hadir dalam kegiatan ini para pemuka agama Katolik, Kristen, serta perwakilan dari komunitas Shri Ksetra Caitya yang mewakili pemuda Buddha.
Selain itu, turut serta pula organisasi kepemudaan Islam seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah, serta unsur perempuan dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah dan Muslimat Nahdlatul Ulama. Tak hanya itu, para pelajar lintas agama dari berbagai sekolah di Bandar Lampung juga turut berpartisipasi, mencerminkan semangat keberagaman dan persaudaraan dalam acara tersebut.
Kegiatan dialog ini menjadi penutup yang bermakna dari rangkaian pelatihan 12 Nilai Dasar Perdamaian. PWNA Lampung berharap kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut dan menjadi bagian dari upaya kolektif menumbuhkan harmoni di tengah masyarakat yang beragam.(pwna/lampung)




.jpg)






